Langsung ke konten utama

Postingan

adakala...

adakalanya aku begitu membutuhkanmu kegersangan melanda jiwaku saat tak kudengar suaramu adakalanya aku begitu merindukanmu setiap denyut dalam nadiku meneriakkan namamu di setiap hariku adakalanya aku selalu memikirkanmu potretmu tergambar jelas membayangi langkahku adakalanya aku sangat menyayangimu segala rasa yang kumiliki ingin kucurahkan hanya kepadamu adakalanya aku membencimu membenci setiap sikap yang torehkan luka di hatiku adakalanya aku begitu tak ingin melihat wajahmu rasanya semua duka bangkit kembali ketika kulihat matamu adakalanya aku menangis untukmu menangis atas kenangan yang dulu kita ukir bersama menangis atas derai tawa yang pernah menggema di udara dan menangis atas masa yang kini pisahkan kita ....... anne, 16 Februari 2014, 7.23pm

Datang...

Sinar yang dulu kulihat dimatamu, tak lagi sama. Cahya itu memudar, haruskah aku percaya ? Kuteliti pandanganmu dengan seksama, Apakah itu dusta ? Percayalah pada hati ini yang mengerti cinta, Percayalah pada jiwa ini yang selalu setia, Akankah kau tetap berdiam diri di sana ? Bergelut bersama pikiranmu yang buat kau buta, Datanglah, kan kurengkuh bersama asa....

masih saja...

Masih ada dirimu Di ujung lorong hati terdalamku Masih teringat padamu Di jauh akal pikiranku tlah lekat dalam benakku Masih terasa dekat denganmu Di masa kini saat jarak memisahkan aku dan dirimu Masih ingun tahu keadaanmu Di kala engkau tlah berganti hari dan hidupmu Maih memiliki harapan seperti dulu Di saat segala asa tlah dihancurkan olehmu...  (Puisi ini ditemukan di buku harian tentang-mu, tertanggal 25 Juli 2012) NB : Ada beberapa perubahan dalam puisi ini.

ketika hujan, kenangan itu datang....

Hujan turun lagi. Basahi setiap pohon, helai daun dan tanah yang tandus di sekitarku. Namun tak mampu hilangkan kegersangan di hatiku. Begitu juga dengan pipiku. Hujan ini tetesi lembut pipiku secara perlahan. Rintiknya begitu indah di hatiku. Memukau namun menyakitkan. Hujan atang bersama kenangan bersamamu. Tidak bisakah ia datang sendiri saja?  Maksudku hanya dengan segala kesejukan yang dimilikinya. Dan kenangan itu membuatku tak mampu berhenti. Berhenti memikirkanmu dan berharap kau disini, menemaniku. Hujan tiada lagi. Rintiknya tak lagi terdengar. Namun kenangan akan engkau masih ada. Selalu berbekas. Seperti hujan yang diresapi tanah. Menampakkan kesedihan. Aku bingung. Tidakkah hujan telah berlalu?  Namun mengapa aku masih tidak bisa melupakanmu?  ........