Langsung ke konten utama

Postingan

#CeritAnne di Surabaya: 7 Jam di Kota Pahlawan

Ketika diberi tugas untuk melakukan perjalanan dinas ke Situbondo, aku senang bercampur haru. Tujuan utamanya memang Situbondo, tetapi yang membuatku begitu bersemangat adalah Surabaya. Sudah lama aku ingin ke ibu kota provinsi paling timur di Pulau Jawa ini. Ada dua alasan yang membuatku begitu ingin ke Surabaya. Pertama tentu karena alasan historisnya, patung Sura dan Baya, Tragedi 10 November, juga Bung Tomo. Kedua aku ingin mengunjungi tempat Mei berada, melakukan napak tilas sebagaimana yang dilakukan oleh Borno dan Pak Tua (maaf ini #buatyangpahamaja heuheu). Kuatur perjalanan sedemikian rupa agar bisa aku mengunjungi kota yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ini, agak panjang dan penuh drama (nanti kuceritakan), tetapi akhirnya bisa terwujud. Inilah perjalananku, tujuh jam singkat di Surabaya, sebuah upayaku untuk senantiasa mencintai Indonesia. 1. Mengunjungi Kawasan Ampel: Masjid Agung dan Makam Sunan Ampel Alasanku sesungguhnya ke sini adalah karena Pak Tua dan Borno yang minta...

takut

Takut aku hatiku mati Tak merasa peduli dan minim empati Takut aku sibuk sendiri  Tak lagi rela membesarkan hati untuk mengorbankan diri Takut aku dipenuhi keegoisan Takut aku hatiku mati Takut aku kehilangan empati

annesa dan kenaifannya.

Aku begitu naif Mengira hidup seperti dongeng Cinderella atau Aurora. Berakhir indah, bahagia selama-lamanya. Terlambat aku menyadari, bahwa hari-hari tidak selalu berwarna, sebagaimana yang kukira. Aku begitu naif Mengira kisah seindah syair cinta. Hanyut aku oleh Kahlil Gibran dan pesonanya, juga oleh lagu-lagu cinta yang kusuka. Terlambat aku menyadari, bahwa ada banyak syair dan lagu-lagu sedih menyayat hati. Aku begitu naif, atau mungkin aku bodoh?

tidak juga belajar.

Kemarin hari yang berat sekali. Sebagaimana biasa, aku masih sama, gemar menunda-nunda. Tidak belajar dari yang lampau. Aku tidak tahu apakah hasilnya bisa kuterima, aku lelah sekali. Hati, jiwa, dan raga. Tadi malam aku sudah sampai di ibukota, nanti malam aku akan bertolak ke kota istimewa. Rasa-rasanya aku ingin menangis saja, ingin rehat sejenak dari huru-hara.

Semoga nanti kamu mengerti.

Kalau bukan hari ini, semoga besok-besok kau mengerti, bahwa ketidakadilan yang kau perbuat kepadaku menghadirkan sakit yang tak bisa diobati. Pernah kudengar, cara terbaik untuk melupakan adalah dengan menumpuk ingatan. Semoga rasa sakit, sedih, kecewa, marah, air mata, dan semua kehampaan segera diganti dengan hal-hal baik hingga yang tersisa hanya memori bahagia dan kesenangan. Kalau bukan hari ini, semoga kamu mengerti nanti ... Ahad, ashar.