Langsung ke konten utama

Postingan

Meragukan lirik kesukaanku setelah sekian lama.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku meragukan lirik kesukaanku: Percayalah hati, lebih dari ini, pernah kita lalui. Ini adalah penggalan lirik dari lagu yang selalu menjadi penguatku, menjadi penyemangat, mengobati sendu sedanku. Liriknya relevan, semuanya. Tentang mimpi-mimpi yang dilambungkan untuk menjadi nyata, tentang rindu-rindu kepada keluarga yang harus dilupakan sementara, juga tentang diri sendiri yang menjadi satu-satunya harapan tersisa. Katanya, percayalah hati, lebih dari ini, pernah kita lalui. Kupikir, bisa jadi benar, hari-hari berat terjadi, dan sudah dilewati. Tangis malam hari, kesulitan dalam hidup yang tiada henti, juga janji-janji yang menunggu untuk ditebusi. Semua adalah lara, yang tentu saja bisa dinikmati.  Bertahun lagu ini menjadi mantra, bahwa aku bisa melalui semua, tak lagi perlu jauh melangkah, aku hanya perlu belajar, berdamai, untuk menikmati lara. Bertahun aku percaya, sedih hanya sementara, lara hanya sementara, duka hanya sementara, ...

memori

hal-hal manis bertahan di dalam hati, menghadirkan senyum malu-malu dan merah di pipi hal-hal menyedihkan bertahan di dalam hati, menghadirkan getir yang terkadang bercampur sesak kita tidak lagi hidup di sana, untuk itu adalah penting menjaga memori tersimpan rapi, bukan untuk disesali.

You'll Be In My Heart

 Berkali-kali aku berkhayal, lagu ini akan menjadi pengantar tidur untukmu nanti Akan kusenandungkan dengan pelan, menanti matamu menutup sempurna, untuk akhirnya kuakhiri dengan kecupan manis Berkali-kali aku bayangkan, lagu ini akan menjadi kesukaan kita berdua Dengan riang kita nyanyikan, sambil berpengangan tangan Berkali-kali aku ucapkan pada diriku, mungkin belum saat ini, tetapi imaji tentang momen yang tidak jadi nyata terus aku simpan Mungkin belum hari ini, mungkin kita belum bertemu kali ini, mungkin nanti, mungkin nanti ... https://www.youtube.com/watch?v=EfHLHdSxQA0

menangis.

 Aku sedang menangis, entah menangisi apa. Rasanya sedih dan sesak, dan tiba-tiba air mata berjatuhan tanpa bisa kukendalikan. Hidup ini memang begitu berat. Entah karena selama ini aku berpura-pura kuat, entah karena aku sibuk menipu diri hingga hatiku berkarat. Rasanya sedih sekali, entah apa. Aku takut menulis sesuatu yang nantinya akan kusesali, atau menulis tanpa berpikir jernih. Mungkin selama ini aku bersembunyi Berpura-pura kuat Lengah dan pada akhirnya tak lagi mengenali diriku sendiri Aku khawatir ini adalah firasat buruk, khawatir sekali.

Pengalaman Pertama.

Kemarin aku ke dokter dan untuk pertama kalinya dalam hidup aku dinyatakan keguguran. Sulit untuk menulisnya, tetapi bila tidak kutulis akan lebih sulit lagi untuk berdamai dengan keadaan. Teringat aku pada canda tawa dengan suami, khayal kami berdua, rumah impian yang tengah kami upayakan agar anak kami nanti tumbuh dengan nyaman. Nama-nama yang kami debatkan, metode pembelajaran yang mulai aku rancang, daftar sekolah mahal yang rasanya mampu kami bayar. Aku menangis karena bersedih hati, menangis untuk hal-hal yang sejatinya memang bukan milikku. Sejujurnya aku tidak menyangka akan mendapat diagnosis abortus. Ketika aku ceritakan keluhanku, dokter sudah menduga dua hal, ancaman keguguran atau memang telah keguguran. Setelah sesi diskusi, dilakukan USG abdomen (di perut), kantong rahim dan janin masih ada, tetapi detak jantung tidak terdengar, ini wajar karena USG abdomen belum bisa mendengar detak jantung bila kehamilan masih di bawah 12 minggu. Berikutnya dilakukan USG Transvaginal ...