Langsung ke konten utama

Percakapan dengan Suami: Tentang Hati Yang Pernah Dipatahkan

 Teringat aku pada hati-hati yang pernah kupatahkan (dengan atau tanpa sengaja). Jangan salah paham dulu, aku bukannya petualang cinta, akan tetapi aku sadar bahwa terkadang tanpa kita sadari, ada hati yang pernah kita patahkan, yang bisa jadi juga kita ketahui belakangan.

Timbul tanya dalam hatiku, bagaimanakah jadinya bila hati itu tidak pernah patah (olehku tentu saja), apakah kami bisa berteman baik dan bertegur sapa sewajarnya? Apakah aku bersalah pernah memberi harapan untuk kemudian kutinggalkan begitu saja?

Kutanya pada suamiku, pernahkah ia merasa bersalah atas hati yang tanpa sengaja ia patahkan?

Dengan enteng, ia menjawab, tidak. Kemudian dilanjutkannya,

"Pertanyaan kamu salah, aku ga bertanggung jawab atas perasaan orang lain."


Benar juga, kita tidak bertanggung jawab pada apa yang orang lain rasakan, sebagaimana orang lain juga tak perlu bertanggung jawab atas apa yang tengah kita rasakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederhana.

Aku ingin dicintai dengan sederhana Selembut yang kau bisa Tak perlu berikrar Aku bukan bocah yang percaya pada rayuan Aku ingin dicintai dengan sederhana Yang buatku jatuh cinta dan lupa semesta Aku ingin dicintai dengan sederhana Sungguh, sederhana saja.

30 detik terlama

Aku merasa lega ketika akhirnya turun dari bis yang ramai sekali. Entah kenapa aku harus berbarengan dengan anak-anak sekolah yang entah dari mana asalnya. Untungnya di halte transit sudah ada bus yang menunggu. Melangkah turun, menunggu giliran. Aku cukup bersabar. Meski takut kalau-kalau tertinggal bus ke arah Panam. Di tangga. Aku menanti kondektur memeriksa karcisku. Lalu aku melihatmu. Kau berdiri dengan santai. Mengamati semua yang lewat. Seperti kenal, kataku dalam hati. Ternyata memang itu kamu. Aku bingung harus bagaimana. Ingin memanggil namamu, tapi ramai sekali. Jika aku berteriak, semua orang akan melihatku. Jika berbisik kau pasti tak akan mendengar. Jadi kutatap saja engkau. Kutunggu kau menatapku balik. Hampir 30 detik sudah. Kau seakan belum menyadari keberadaanku Aku masih sabar Akhirnya, kau balik melihatku Engkau seperti kaget Aku hanya tertawa Mengayunkan karcisku, dan berkata " Aku duluan Bal" Berjalan terus. Menahan tawa T...

Dikejar Monyet

Aku akan berkisah tentang pengalaman yang sangat luar biasa Yang kualami sendiri Hari ini, aku ada rapat di sekre BEM Universitas Riau. Persiapan acara nasional di bulan Maret nanti Dan kebetulan aku adalah CO Acara Seperti biasa, aku berjalan kaki dari kos Melewati jalanan kampus yang sepi Seharusnya aku sudah memposting sebuah tulisan yang kubuat hari Kamis lalu, tapi aku lupa Tentang monyet Namun tenang saja, ketika aku menulis kisah ini postingan itu sudah bisa kau baca Mungkin ini adalah teguran dari Allah Aku begitu sombong Kau boleh membacanya di sini Hari ini aku diberi sebuah pengalaman yang sangat luar biasa Entahlah bagaimana caranya menceritakan Tapi kau harus baca jika ingin tau Kembali lagi ke cerita hari ini Jika kau sudah membaca postinganku sebelumnya kau pasti sudah tau bahwa ada sebuah jalan yang harus dilewati jika ingin ke sekre, dan orang-orang yang lewat di jalanan tersebut sering melihat monyet, bahkan dikejar. Nah, sebagaimana yang kutul...