Langsung ke konten utama

Postingan

Percakapan dengan Suami: Tentang Hati Yang Pernah Dipatahkan

 Teringat aku pada hati-hati yang pernah kupatahkan (dengan atau tanpa sengaja). Jangan salah paham dulu, aku bukannya petualang cinta, akan tetapi aku sadar bahwa terkadang tanpa kita sadari, ada hati yang pernah kita patahkan, yang bisa jadi juga kita ketahui belakangan. Timbul tanya dalam hatiku, bagaimanakah jadinya bila hati itu tidak pernah patah (olehku tentu saja), apakah kami bisa berteman baik dan bertegur sapa sewajarnya? Apakah aku bersalah pernah memberi harapan untuk kemudian kutinggalkan begitu saja? Kutanya pada suamiku, pernahkah ia merasa bersalah atas hati yang tanpa sengaja ia patahkan? Dengan enteng, ia menjawab, tidak. Kemudian dilanjutkannya, "Pertanyaan kamu salah, aku ga bertanggung jawab atas perasaan orang lain." Benar juga, kita tidak bertanggung jawab pada apa yang orang lain rasakan, sebagaimana orang lain juga tak perlu bertanggung jawab atas apa yang tengah kita rasakan.

Untuk Geliska dan Adi.

Untuk Geliska dan Adi yang sudah resmi menjadi suami istri. Sejujurnya aku ingin memberi ucapan lewat media sosial, tetapi aku tahu betul satu unggahan tidak akan cukup dan beberapa unggahan sekaligus akan mengganggu bila tak runut. Jadilah begini saja. Aku bisa bebas menulis apa yang kusuka. Oke begini. Mari kita awali dengan kekecewaanku karena tidak mendapat foto eksklusif pernikahan kalian berdua. Padahal sudah terbayang beberapa foto indah terpampang nyata untuk diriku seorang. Aku mengerti kalian sibuk dan aku tidak menyalahkan siapapun, aku hanya kecewa saja dan ini wajar, bukan? Akan tetapi ya sudahlah, cukup satu paragraf, akan kulanjutkan dengan betapa bahagianya aku melihat kalian berdua bersanding, tersenyum bahagia, dengan wajah sumringah yang membuatku ingin menangis saja. Wahai Adi dan Geliska, aku sungguh berbahagia untuk pernikahan kalian. Ada banyak doa baik, ada banyak harapan yang ingin kusampaikan, tetapi nanti, nanti saja di akhir kata. Sebelum itu aku harus jujur...

The disney princesses that I adore so much.

Hari ini aku menonton tiga film Disney bersama adik-adikku: Beauty and The Beast (2017), Maleficent (2014), dan Maleficent: Mistress of Evil (2019). Tentunya ini adalah versi terbaru dari disney princess , tak lain Belle dan Aurora. Dua disney princess yang posisinya tak lagi sama di hatiku. Dulu ketika kecil Aurora adalah kesukaanku, sedangkan Belle tidak pernah menjadi favorit. Kini ketika sudah dewasa, Aurora bahkan tak masuk dalam posisi tiga besar disney princess idolaku. Agaknya karena sudah lebih banyak pilihan disney princess sehingga satu menggantikan yang lain atau karena boleh jadi kriteria  " princess" yang patut diteladani mulai berganti. Gambar ini menyimpan banyak sekali kenangan masa kecil! Dulu ketika kecil yang kusukai adalah hal-hal yang cantik, menawan, dan indah. Terlebih bila berwarna merah muda, identik dengan perempuan lucu menggemaskan. Jadilah dulu bila tidak Aurora, maka Cinderella, atau Ariel. Mereka yang berparas mempesona dan masalahnya diselesai...

Selagi Ingat

Kemarin aku menonton video kutipan wawancara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim dengan, hm aku tidak tahu dengan siapa. Yang jelas video itu diunggah di Tiktok. Aku tidak ingat persis bagaimana kutipannya (nanti kutambahkan), tetapi aku sungguh setuju dan merasakan apa yang dikatakan beliau. Bahwa ketika menjadi pekerja, ada proses pembentukan mental yang tidak bisa didapatkan ketika langsung menjadi bos atau atasan. Tentang proses adaptasi. Selagi ingat, kuunggah begini saja dulu. Nanti kulanjutkan.

Ini Lima Cara Bertanggung Jawab terhadap Sampah yang Kamu Hasilkan!

Salah satu hal yang membebaniku dalam masalah sampah di Indonesia adalah banyaknya Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang makin hari sampahnya kian menggunung. Termasuk TPA di kotaku, TPA Muara Fajar 2 Pekanbaru. Usianya menuju tiga tahun, tetapi lima hektar seakan kurang, butuh penambahan lahan lagi. Apakah perencanaan yang kurang matang atau manajemen yang kurang baik? Entahlah, aku tidak mengerti. Aku dan TPA Muara Fajar, Oktober 2019. Tahun pertama beroperasi. Keadaan ini miris sekali. Kucari-cari celah, benarkah ini kesalahan Pemerintah? Mungkin iya. Akan tetapi aku mengerti bahwa kita, masyarakat, memiliki peranan besar terhadap jumlah sampah yang masuk ke TPA. Di Pekanbaru misalnya, sekitar 700 – 800 ton sampah/hari masuk ke TPA Muara Fajar. Padahal sebenarnya jumlah ini bisa dikurangi melalui berbagai upaya pengurangan sampah. Akan tetapi, faktanya saat ini pengurangan sampah masih sedikit dilakukan. Menurut data dari SIPSN, pengurangan sampah di Pekanbaru pada tahun 2020 hanya...