Langsung ke konten utama

Lagu Galau - Al Ghazali KW

Aku ingin tertawa
Maaf
Aku butuh informasi, atau klarifikasi..
Mohon dibaca
Saat ini, aku sedang di kamarku, mendengarkan radio 90 Fm, RBT Music Factory.
Aku memang suka mendengarkan lagu di radio ini.
Setelah lagu yang sama sekali tak kukenal diputar, intro lagu yang cukup akrab mulai mengalun.
Aku menebak
Sungguh aku tau lagunya, tapi yang ini sedikit berbeda
Entah ada yang salah, atau bagaimana
Akhirnya suara penyanyi mulai terdengar
Tentu aku bisa langsung mengenali lagu ini
"Cinta itu buta dan tuli, tak melihat tak mendengar"
Ya benar
Lagu Galau, milik si ganteng Al Ghazali.
Aku sangat akrab dengan lagu ini, adik-adikku yang masih kecil sangat suka mendengarnya.
Namun yang kudengar kali ini bukan suara berat milik Al
Suaranya dibuat lebih manja, sok lembut..
Sejujurnya aneh mendengarnya
Aku terheran-heran
Lagunya di recycle ? Atau bagaimana ?
Segera aku mengadu pada Google, mencari-cari apakah ada yang mendaur ulang lagu tersebut.
Kau tau hasilnya ?
Nihil.
Aduh, lucu sekali..
Yang punya informasi, mungkin bisa memberi komentar
Karna bagaimanapun, ini terkait hak cipta..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederhana.

Aku ingin dicintai dengan sederhana Selembut yang kau bisa Tak perlu berikrar Aku bukan bocah yang percaya pada rayuan Aku ingin dicintai dengan sederhana Yang buatku jatuh cinta dan lupa semesta Aku ingin dicintai dengan sederhana Sungguh, sederhana saja.

30 detik terlama

Aku merasa lega ketika akhirnya turun dari bis yang ramai sekali. Entah kenapa aku harus berbarengan dengan anak-anak sekolah yang entah dari mana asalnya. Untungnya di halte transit sudah ada bus yang menunggu. Melangkah turun, menunggu giliran. Aku cukup bersabar. Meski takut kalau-kalau tertinggal bus ke arah Panam. Di tangga. Aku menanti kondektur memeriksa karcisku. Lalu aku melihatmu. Kau berdiri dengan santai. Mengamati semua yang lewat. Seperti kenal, kataku dalam hati. Ternyata memang itu kamu. Aku bingung harus bagaimana. Ingin memanggil namamu, tapi ramai sekali. Jika aku berteriak, semua orang akan melihatku. Jika berbisik kau pasti tak akan mendengar. Jadi kutatap saja engkau. Kutunggu kau menatapku balik. Hampir 30 detik sudah. Kau seakan belum menyadari keberadaanku Aku masih sabar Akhirnya, kau balik melihatku Engkau seperti kaget Aku hanya tertawa Mengayunkan karcisku, dan berkata " Aku duluan Bal" Berjalan terus. Menahan tawa T...

Lebaran Monyet

Aku lupa saat itu kami membahas apa. Entah sesuatu yang kujanjikan, atau yang benar-benar ia harapkan Tapi satu yang jelas kuketik di whatsapp adalah "Tunggu saja sampai lebaran monyet" Kau pasti pernah mendengar kan ungkapan tersebut ? Banyak ungkapan sejenis seperti "Tunggu saja sampai bulan jadi dua" atau "Tunggu saja sampai Eminem ngeluarin album religi" atau  "Tunggu saja sampai Justin Bieber duet bareng Opick nyanyiin lagu dangdut" Ya sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi. Kalaupun terjadi, hanya sedikit kemungkinannya atau bahkan akan menunggu sangat lama Menanggapi lebaran monyet tersebut bukan lah kesal atau protes darinya yang kudapat Melainkan sebuah foto yang membuatku tertawa terbahak-bahak Lebaran Monyet " Itu lagi lebaranan" Balasnya. Aduh ingin sekali kupeluk ia saat itu juga Menggemaskan sekali