Langsung ke konten utama

Cerita Hijrah




Hari ini aku bertemu dengan salah seorang teman.

Kami pernah sama-sama terlibat dalam rangkaian paling bergengsi di kampus sebagai panitia, dan sekarang berada dalam satu organisasi tertinggi di universitas, meskipun berbeda bidang.

Aku masih ingat pertama kali mengenal dirinya
Seorang periang, penuh semangat dan ramah
Seperti mahasiswi kebanyakan, baju kemeja pas badan dan celana jeans adalah pakaian sehari-harinya
Dan yang paling lekat di ingatanku, lipstick yang selalu "on", merona.

Beberapa hari lalu, aku melihat potretnya di sebuah postingan. Yang jelas bukan mililnya
Dia tersenyum, menghadap ke kamera
Tak ada yang aneh, namun ada sesuatu yang membuatku kaget
Ada yang berbeda
Dia memakai gamis, lengkap dengan jilbab yang panjang. Hingga ke dada

Hijrahkah ia ?

Aku hanya menduga

Dan pukul 10 tadi, kami bertemu kembali
Ternyata memang benar
Aku sangat bahagia melihatnya
Aku turut merasa senang, atas hijrahnya
Sama sepertiku, ternyata ia memang dari dulu ingin hijrah
Bedanya, ia telah melakukannya, sementara aku belum

Ada satu yang berbekas di hati dari perkataannya
"Kalau menunggu punya baju baru hijrah, ga akan pernah. Hijrah dulu, nanti lama-lama bajunya akan dibeli pasti"

Sedikit tertampar

Kutanya lagi

Aku kapan ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederhana.

Aku ingin dicintai dengan sederhana Selembut yang kau bisa Tak perlu berikrar Aku bukan bocah yang percaya pada rayuan Aku ingin dicintai dengan sederhana Yang buatku jatuh cinta dan lupa semesta Aku ingin dicintai dengan sederhana Sungguh, sederhana saja.

30 detik terlama

Aku merasa lega ketika akhirnya turun dari bis yang ramai sekali. Entah kenapa aku harus berbarengan dengan anak-anak sekolah yang entah dari mana asalnya. Untungnya di halte transit sudah ada bus yang menunggu. Melangkah turun, menunggu giliran. Aku cukup bersabar. Meski takut kalau-kalau tertinggal bus ke arah Panam. Di tangga. Aku menanti kondektur memeriksa karcisku. Lalu aku melihatmu. Kau berdiri dengan santai. Mengamati semua yang lewat. Seperti kenal, kataku dalam hati. Ternyata memang itu kamu. Aku bingung harus bagaimana. Ingin memanggil namamu, tapi ramai sekali. Jika aku berteriak, semua orang akan melihatku. Jika berbisik kau pasti tak akan mendengar. Jadi kutatap saja engkau. Kutunggu kau menatapku balik. Hampir 30 detik sudah. Kau seakan belum menyadari keberadaanku Aku masih sabar Akhirnya, kau balik melihatku Engkau seperti kaget Aku hanya tertawa Mengayunkan karcisku, dan berkata " Aku duluan Bal" Berjalan terus. Menahan tawa T...

Lebaran Monyet

Aku lupa saat itu kami membahas apa. Entah sesuatu yang kujanjikan, atau yang benar-benar ia harapkan Tapi satu yang jelas kuketik di whatsapp adalah "Tunggu saja sampai lebaran monyet" Kau pasti pernah mendengar kan ungkapan tersebut ? Banyak ungkapan sejenis seperti "Tunggu saja sampai bulan jadi dua" atau "Tunggu saja sampai Eminem ngeluarin album religi" atau  "Tunggu saja sampai Justin Bieber duet bareng Opick nyanyiin lagu dangdut" Ya sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi. Kalaupun terjadi, hanya sedikit kemungkinannya atau bahkan akan menunggu sangat lama Menanggapi lebaran monyet tersebut bukan lah kesal atau protes darinya yang kudapat Melainkan sebuah foto yang membuatku tertawa terbahak-bahak Lebaran Monyet " Itu lagi lebaranan" Balasnya. Aduh ingin sekali kupeluk ia saat itu juga Menggemaskan sekali